Ketua DPRD Kutim Tekankan Validasi Keuangan Sebelum Ajukan Pinjaman Daerah

TERASKATA.Com, Kutai Timur – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Timur (Kutim), Jimmi, menekankan pentingnya validasi potensi keuangan daerah sebelum pemerintah mengajukan pinjaman ke pemerintah pusat.

‎Langkah ini dinilai krusial agar pinjaman pembangunan yang nilainya bisa mencapai Rp2,5 triliun dapat dipertanggungjawabkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

‎Menurut Jimmi, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) saat ini membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk memanfaatkan potensi kurang salur Dana Bagi Hasil (DBH) sebagai jaminan pinjaman.

‎Namun, ia mengingatkan bahwa Kutim harus terlebih dahulu memastikan seluruh data keuangan dan potensi pendapatan telah terverifikasi secara akurat dan transparan.

‎“Tergantung ke validasi dari potensi finansial kita itu seperti apa. Itu yang mau dilihat oleh pusat,” ujarnya, di Sangatta, beberapa waktu lalu.

‎Ia menegaskan, proses validasi menjadi hal mendasar agar pinjaman daerah tidak menimbulkan beban fiskal di masa depan.

‎Validasi ini mencakup pemeriksaan terhadap kemampuan keuangan daerah. Kelayakan proyek pembangunan yang akan didanai, serta mekanisme pengembalian pinjaman.

‎“Kita tidak boleh terburu-buru hanya karena ada peluang. Semua harus berdasarkan perhitungan yang jelas agar Kutim tidak mengalami defisit di kemudian hari,” jelasnya.

‎Lebih lanjut, Jimmi menyebut bahwa pemerintah pusat juga mendorong daerah untuk menggandeng lembaga keuangan, seperti perbankan, guna memperkuat pembiayaan pembangunan daerah.

‎Keterlibatan pihak ketiga ini diharapkan dapat memperluas akses pendanaan. Sekaligus meningkatkan akuntabilitas penggunaan anggaran.

‎“Pemerintah pusat mendorong pemanfaatan bank untuk ikut berkontribusi terhadap pembangunan daerah,” katanya.

‎Jimmi optimistis, dengan validasi dan koordinasi yang baik, pinjaman ini dapat menjadi langkah strategis untuk mempercepat pembangunan di berbagai sektor. Seperti infrastruktur dasar, pelayanan publik, hingga penguatan ekonomi lokal.

‎“Ke depan, dari hasil pinjaman ini kita bisa menyajikan pertumbuhan ekonomi itu berapa persen. Artinya, setiap pinjaman harus punya nilai tambah bagi masyarakat,” tutupnya.(adv)