TERASKATA.Com, Kutai Timur — Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kutai Timur mulai menggeser paradigma layanan kependudukan. Tidak lagi berhenti pada isu stunting dan keluarga muda, DP2KB kini memperluas intervensi hingga kelompok lanjut usia melalui peluncuran Program Sidaya (Lansia Berdaya), Kamis (15/1/2026).
Langkah ini diperkenalkan dalam kegiatan silaturahmi lintas sektor yang dirangkai dengan pengajian Khatam Al-Qur’an di Kantor DP2KB Kutim, Bukit Pelangi. Hadir pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), kader KB, organisasi keagamaan, hingga aparatur sipil negara (ASN) dan PPPK.
Kepala DP2KB Kutim Achmad Junaidi menegaskan, kegiatan tersebut bukan seremoni rutin, melainkan ruang strategis untuk memastikan program pemerintah dipahami dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Sekecil apa pun program pemerintah, itu kerja nyata untuk masyarakat. Karena itu harus disampaikan secara terbuka dan melibatkan banyak pihak,” kata Junaidi.
Di hadapan para undangan, Junaidi menyoroti pentingnya kesinambungan program. Ia menyebut, DP2KB mendorong Dharma Wanita Persatuan (DWP) DPPKB memiliki satu program unggulan yang dijalankan secara konsisten.
“Tidak perlu banyak, satu program saja, tapi tuntas dan berkelanjutan,” ujarnya.
Terobosan paling menonjol dalam agenda tersebut adalah pengenalan Program Sidaya, sebuah konsep “sekolah lansia” yang masih tergolong baru di Kalimantan Timur. Program ini dirancang untuk membekali lansia dengan pengetahuan tentang proses menua, kesehatan fisik dan mental, hingga pendampingan pasca sakit.
“Mulai dari pencegahan hipertensi, risiko jatuh, fungsi kognitif, sampai pendampingan pasca stroke,” tuturnya.
Yang membedakan Sidaya, lanjut dia, adalah pendekatan holistik. Selain pendampingan medis oleh dokter spesialis dan pakar geriatri, program ini juga memasukkan unsur spiritual dan aktivitas fisik.
“Ada pendampingan oleh ustadz dan kiai, juga senam lansia. Jadi bukan hanya sehat secara fisik, tapi juga tenang secara mental dan spiritual,” ujarnya.
DP2KB Kutim berharap Sidaya mampu melahirkan lansia yang lebih mandiri, sehat, dan bahagia. “Lansia yang tangguh, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi lingkungan sekitarnya,” ucapnya.
Melalui perluasan layanan dari hulu ke hilir dari penanganan stunting hingga pemberdayaan lansia DP2KB Kutim menegaskan arah kebijakan kependudukan yang lebih inklusif. Bagi mereka, urusan kependudukan bukan sekadar angka statistik, melainkan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia di setiap fase usia. (Ronny/teraskata)





