TERASKATA.Com, Kutai Timur – Jalur utama penghubung Sangatta–Bengalon di Kabupaten Kutai Timur kian rentan. Longsor yang terjadi di sedikitnya 16 titik telah menggerus badan jalan nasional, memaksa kendaraan melintas bergantian dan menimbulkan antrean panjang, terutama pada jam sibuk.
Di beberapa lokasi, Jalan Poros Sangatta–Bengalon kini hanya menyisakan satu lajur aktif. Truk logistik, kendaraan pribadi, hingga angkutan umum harus mengalah satu sama lain dengan sistem buka-tutup yang diatur secara manual oleh pengguna jalan.
Kepala Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Kalimantan Timur, Viasmudji Bitticaca, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Penanganan longsor di ruas strategis itu dipastikan mulai dilakukan tahun ini.
“Karena ini aset jalan nasional, penanganannya sudah disetujui dan masuk prioritas. Tahun ini akan dikerjakan,” kata Viasmudji, Senin (19/1).
Untuk tahap awal, anggaran yang disiapkan diperkirakan berkisar Rp 5 miliar hingga Rp 5,5 miliar. Nilai tersebut masih bersifat estimatif karena proses kontrak belum berjalan.
Menurut Viasmudji, satu titik longsoran utama dengan panjang sekitar 50 meter menjadi prioritas penanganan. Namun secara keseluruhan, dari Sangatta hingga Simpang Perdauwi terdapat 16 titik rawan longsor dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda.
“Ada yang masih bisa dilewati meski menyempit, ada juga yang sudah menggerus setengah badan jalan dan itu menjadi prioritas,” ujarnya.
Sambil menunggu pekerjaan utama dimulai, Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) melakukan langkah-langkah darurat untuk mencegah kerusakan meluas. Upaya tersebut antara lain pemasangan bronjong dan sandbag di titik-titik rawan.
“Yang terpenting, akses jalan tidak terputus. Meski harus satu arah dengan sistem buka-tutup, lalu lintas tetap kami jaga,” kata Viasmudji.
Ia menambahkan, longsor di ruas Sangatta–Bengalon dipicu kombinasi beberapa faktor, mulai dari kondisi tanah yang lunak, tingginya intensitas hujan, hingga beban kendaraan bertonase berat yang melintas setiap hari.
“Kondisi tanahnya memang rentan. Ketika hujan ekstrem dan dilalui kendaraan berat, potensi longsor meningkat,” ujarnya.
BPJN menargetkan pekerjaan fisik dapat dimulai setelah kontrak berjalan dan ditargetkan paling lambat mulai bulan depan. (Ronny/teraskata)


