TERASKATA.Com, Kutai Timur — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menetapkan lokasi pembangunan Koperasi Kelurahan Merah Putih Teluk Lingga di lahan aset daerah yang berada di belakang Pasar Induk Sangatta.
Keputusan ini menandai langkah awal implementasi program strategis nasional satu desa satu koperasi, sekaligus memunculkan diskusi tentang potensi dampaknya terhadap denyut ekonomi salah satu pasar tradisional terbesar di Sangatta itu.
Penetapan lokasi tersebut dilakukan setelah pemerintah mengevaluasi sejumlah alternatif lahan, termasuk kawasan Jalan Soekarno-Hatta di sekitar Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kudungga dan di Jalan Simono berdekatan dengan wacana pembangunan Sekolah Rakyat (SR).
Dari hasil analisis tata ruang dan peruntukan lahan, opsi di sekitar Pasar Induk dinilai paling memungkinkan karena berstatus aset Pemda dan tidak memiliki kendala administratif.
Namun, keputusan ini tidak serta-merta tanpa pertimbangan. Pemerintah menyadari kedekatan koperasi dengan Pasar Induk berpotensi memunculkan kekhawatiran pedagang, terutama terkait persaingan harga dan distribusi barang.
Dikeluarkan dari Kawasan Pasar Induk
Untuk meredam potensi gesekan, Pemkab Kutim menegaskan koperasi tidak akan menjadi bagian dari aktivitas Pasar Induk. Meski berdiri di atas lahan yang sebelumnya direncanakan untuk pengembangan pasar, area tersebut akan dikeluarkan dari kawasan inti Pasar Induk.
“Secara fungsi, koperasi ini tidak berada di area Pasar Induk. Akan ada pembatas yang jelas. Aktivitasnya berdiri sendiri dan tidak berada dalam sistem pasar,” jelas Kepala Dinas Koperasi dan UMK Kutim, Teguh Budi Santoso, Kamis (22/1/2026).

Koperasi Merah Putih juga ditegaskan bukan pasar murah dan tidak akan menjual komoditas utama yang selama ini menjadi sumber penghidupan pedagang pasar, seperti ayam potong dan sayur-mayur. Fokus utamanya adalah pelayanan kepada anggota koperasi, yang jumlahnya ditargetkan sekitar 500 orang.
“Jadi koperasi ini nggak jual ayam, sayur-mayur. Dia hanya fokus melayani anggota,” ujarnya.
Dengan skema tersebut, pemerintah berharap keberadaan koperasi justru melengkapi ekosistem ekonomi, bukan menyingkirkan pelaku usaha yang telah lebih dulu ada.
Bukan Sekadar Usaha, Tapi Instrumen Kebijakan
Berbeda dengan koperasi pada umumnya, Koperasi Merah Putih merupakan bagian dari program strategis nasional yang dirancang hingga ke tingkat desa dan kelurahan. Tujuan utamanya bukan semata keuntungan usaha, melainkan pengendalian inflasi dan stabilisasi harga.
Koperasi ini diarahkan untuk mengelola barang-barang tertentu yang berperan sebagai penyangga harga, khususnya bagi anggota. Dalam konteks tersebut, persaingan dengan pasar tradisional dinilai tidak terhindarkan, namun dianggap sebagai bagian dari dinamika usaha.
“Sekarang dengan munculnya cafe-cafe (perumpamaan) baru apakah mengganggu cafe lama? semua namanya usaha itu kan hoki-hokian,” sebut Teguh.
Skala Besar, Tantangan Nyata
Di Kutai Timur, target program ini mencakup 141 koperasi desa dan kelurahan. Hingga kini, 109 desa telah menyiapkan lahan, dan 87 di antaranya sudah masuk tahap pembangunan fisik. Teluk Lingga menjadi salah satu kelurahan pertama yang mulai diproses, meski masih berada di tahap penetapan lokasi.
“Nah, Kalau untuk masalah Teluk Lingga, itu tentu saja kan ini ada regulasi-regulasi yang harus dijalani. Nanti apabila sudah tanah itu siap dan secara administrasi sudah memenuhi syarat, otomatis nanti lewat TNI akan mendaftarkan ke sistem kami,” sambung Danramil 0909-01/Sangatta, Kapten Inf Arif Safardiyatno.

Pembangunan fisik koperasi dibiayai melalui skema nasional dengan total anggaran Rp1,1 triliun untuk Kalimantan Timur, melibatkan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sebagai penyedia pembiayaan dan TNI sebagai pelaksana konstruksi di lapangan. Setiap koperasi idealnya berdiri di atas lahan minimal 1.000 meter persegi.
Meski demikian, tantangan di lapangan tidak kecil. Sejumlah desa terkendala kondisi fisik lahan seperti rawa dan perbukitan. Selain itu, pematangan lahan tidak termasuk dalam pembiayaan nasional, sehingga desa atau pemerintah daerah harus mencari solusi sendiri. (Ronny/teraskata)


