Teraskata.com

Informasi Seputar Kalimantan Timur

Harga Beras Mulai Naik di Pasar Induk Sangatta, UPT Usul Rapat Lintas OPD Cari Solusi Pasokan

Biro Bontang

TERASKATA.Com, Kutai Timur – Fluktuasi harga bahan pokok masih terjadi di Pasar Induk Sangatta, Kabupaten Kutai Timur. Meski sebagian besar komoditas tercatat mengalami penurunan harga pasca Natal 2025 dan tahun baru 2026 (Nataru), beras justru menunjukkan tren kenaikan akibat pasokan yang terbatas.

Kepala UPT Pasar Induk Sangatta, Bohari, mengungkapkan hasil pemantauan hingga 15 Januari 2026 menunjukkan pergerakan harga yang beragam. Namun, beras menjadi komoditas yang paling mendapat perhatian pedagang dan pengelola pasar.

“Untuk beras ketupat medium kemasan 25 kilogram, sebelumnya Rp360.000, sekarang naik menjadi Rp365.000. Informasi dari distributor, suplai memang sedang terbatas,” kata Bohari saat ditemui di Pasar Induk Sangatta, Selasa (20/1/2026).

Menurut dia, pasokan beras ke Kutai Timur sebagian besar berasal dari luar daerah, terutama Sulawesi. Pembatasan kuota distribusi disebut menjadi salah satu faktor yang memicu kelangkaan pasokan di tingkat pasar.

Kondisi tersebut, lanjut Bohari, tidak hanya dirasakan pedagang di Pasar Induk Sangatta, tetapi juga terjadi di hampir seluruh kecamatan di Kutai Timur. Para distributor pun mengeluhkan keterbatasan suplai yang harus dibagi ke berbagai wilayah.

“Keluhan ini bukan hanya dari Pasar Induk. Dari distributor disampaikan, semua kecamatan juga merasakan hal yang sama. Kalau suplai dibatasi sementara harga diatur, pedagang di bawah yang akhirnya tertekan,” ujarnya.

Untuk mencegah gejolak berkepanjangan, UPT Pasar Induk mendorong Disperindag Kutai Timur menginisiasi rapat lintas organisasi perangkat daerah (OPD) bersama para distributor, khusus membahas persoalan beras.

Bohari menilai, solusi perlu segera dicari agar tidak terjadi lonjakan harga yang berdampak langsung ke masyarakat. Salah satu opsi yang diusulkan distributor adalah optimalisasi penyaluran beras SPHP sebagai penyangga pasokan di pasaran.

“SPHP bisa jadi penutup kekosongan suplai. Memang selera masyarakat berbeda-beda, tapi ini bisa membantu menahan gejolak kalau pasokan reguler kurang,” sebutnya.

Sementara itu, untuk komoditas lain, kondisi pasar relatif aman. Harga cabai justru mengalami penurunan signifikan. Cabai keriting yang sempat berada di kisaran Rp55.000 per kilogram kini turun menjadi Rp40.000, sementara cabai rawit masih bertahan di angka Rp150.000 per kilogram.

Sejumlah sayuran juga tercatat turun, seperti buncis dan wortel. Meski ada beberapa komoditas yang naik tipis, Bohari menyebut kenaikannya tidak signifikan dan masih dipengaruhi faktor cuaca.

Untuk komoditas protein hewani, harga daging sapi dan ayam terpantau stabil sejak sebelum tahun baru hingga kini. Adapun sektor perikanan hanya mengalami kenaikan pada jenis tertentu, seperti ikan teri yang naik sekitar Rp10.000 per kilogram akibat faktor cuaca dan pasokan dari luar daerah.

“Secara umum, pasar masih kondusif. Yang perlu diantisipasi serius saat ini hanya beras. Kalau tidak segera dicari solusi, ini bisa jadi gejolak,” pungkasnya. (Ronny/teraskata)

Berita DPRD Bontang terbaru hari ini