TERASKATA.Com, Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perdana. Tidak hanya sekadar pembagian makanan, program ini dikawal ketat dari sisi kualitas gizi hingga keamanan distribusi.
Launching perdana program MBG wilayah Kutai Timur tersebar di delapan sekolah Kecamatan Sangatta Utara dengan total penerima mencapai 2.274 anak yang tersebar di delapan sekolah, mulai dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA.
Program MBG merupakan bagian dari visi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui misi Asta Cita untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman menegaskan kualitas makanan harus menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program ini. Ia sempat meninjau langsung dapur pengolahan makanan dan menyebut fasilitas yang tersedia sudah representatif. Namun, ia tetap mengingatkan agar kebersihan dijaga secara berkelanjutan.
“Meskipun tadi saya arahkan, ini harusnya betul-betul terjaga dengan baik dan jangan sampai terkontaminasi dengan yang dari luar masuk sembarangan dan sebagainya. Itu saya minta tadi,” kata Ardiansyah dalam sesi wawancaranya di SMA 2 Sangatta Utara, Senin (15/9/2025).
Ardiansyah juga menambahkan menu makanan bagi siswa tidak dibuat sembarangan. Setiap dapur MBG didampingi tenaga ahli gizi yang memiliki kewenangan menyusun menu secara berkala.
“Alhamdulillah saya dengar setiap 10 hari itu menu selalu disusun ya, disusun oleh ahli gizi dan kebetulan masing-masing dapur itu ada satu ahli gizi,” jelasnya.
Selain menyoal kualitas makanan, Pemkab Kutim juga memperhatikan aspek teknis distribusi. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Tiara Rapiernia A menjelaskan pihaknya telah menyiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus. SOP tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing jenjang pendidikan agar tidak mengganggu aktivitas belajar.
“SOP distribusi untuk TK, SD, SMP, dan SMA berbeda. Karena itu, kami mengatur jadwal terlebih dahulu sesuai jam belajar, jam istirahat, dan jam pulang sekolah,” terang Tiara.
Lebih jauh, ia menekankan sistem distribusi juga mempertimbangkan kapasitas sekolah, jumlah penerima, hingga kondisi lapangan. Pihaknya memastikan, meski efisiensi waktu tetap diperhatikan, kualitas dan keamanan makanan tidak boleh dikompromikan.
“Meski kita mengejar efisiensi waktu, jangan sampai kualitas dan keamanan makanan berkurang. Proses distribusi akan tetap mengacu pada standar higienitas yang ketat,” tegasnya. (Ronny/teraskata)







