TERASKATA.Com, Kutai Timur – Rencana efisiensi anggaran tahun 2026 membuat kekhawatiran muncul di lingkungan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Induk Sangatta.
Sebab, dalam rancangan sementara, alokasi gaji untuk tenaga harian lepas (THL) hanya dianggarkan untuk enam bulan.
Meski demikian, Kepala UPT Pasar Induk Sangatta Bohari menegaskan pihaknya tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap petugas pasar.
“Kalau melihat rancangan awal, gaji petugas hanya disiapkan untuk enam bulan. Tapi kami tidak mau memutus tenaga kerja. Mereka ini ujung tombak kebersihan dan keamanan pasar,” ujar Bohari, saat ditemui di Kantor Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kutai Timur (Kutim).
Ia mengakui kebijakan efisiensi menjadi tantangan berat bagi pengelolaan pasar, mengingat seluruh petugas THL berperan penting menjaga aktivitas pasar tetap tertib.
Di bawah koordinasinya, terdapat sekitar 60 petugas, mulai dari tenaga kebersihan, keamanan hingga teknisi yang setiap hari menjaga empat pasar Pasar Induk Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Sangkima dan Pasar Rantau Pulung.
Menurut Bohari, pihaknya sudah mengajukan penambahan biaya operasional melalui dinas terkait agar honor petugas tetap terjamin hingga akhir tahun 2026.
“Kami sudah sampaikan ke dinas. Mudah-mudahan pada perubahan anggaran nanti ada tambahan. Karena kalau pasar tidak diurus dua hari saja, bisa bau dan kumuh,” tegasnya.
Bohari menyebut, sejauh ini operasional tahun 2025 berjalan aman. Semua kebutuhan pokok, seperti gaji, listrik, air, dan Wi-Fi, sudah dijamin selama 12 bulan melalui APBD murni.
“Kami pastikan tidak ada keterlambatan gaji. Semua berjalan normal,” katanya.
Ancaman Efisiensi Anggaran Tak Bisa Diabaikan
Meski begitu, ancaman efisiensi tahun berikutnya tak bisa diabaikan, terlebih dua pasar baru di Teluk Pandan dan Bengalon diproyeksikan selesai akhir tahun ini.
Kehadiran dua pasar tersebut akan menambah beban biaya untuk kebersihan dan keamanan.
“Kami sedang bersiap agar ketika dua pasar baru itu beroperasi, layanan tetap terjaga. Kalau anggaran tidak ditambah, otomatis petugas yang ada sekarang akan kewalahan,” ucapnya.
Bohari menegaskan, pihaknya akan terus memperjuangkan nasib para pekerja lapangan yang selama ini sudah berjasa menjaga kebersihan pasar.
“Mereka ini bekerja setengah mati di lapangan. Saya tahu betul, tidak mudah menjaga pasar tetap bersih. Karena itu, saya berharap tidak ada satu pun dari mereka yang harus berhenti hanya karena efisiensi,” katanya.
Ia menutup dengan harapan agar kebijakan efisiensi bisa disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan.
“Kami paham soal efisiensi, tapi pelayanan publik tidak boleh dikorbankan. Pasar adalah wajah daerah, dan menjaga wajah itu butuh tangan-tangan mereka,” pungkanya. (Ronny/teraskata)


