Jalan Rusak Bertahun-tahun di Muara Ancalong, Warga Terpaksa Naik Perahu Demi Bisa Bekerja

TERASKATA.Com, Kutai Timur — Kerusakan jalan utama di Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur, bukan lagi sekadar persoalan infrastruktur. Bertahun-tahun tanpa perbaikan berarti, kondisi ini memaksa warga mencari cara berisiko demi tetap bisa bekerja dan beraktivitas, termasuk melintasi parit besar dengan perahu kecil saat jalan tak bisa dilewati.

Jalan penghubung antar desa yang menjadi akses vital masyarakat terutama Desa Senyiur, Kelinjau Ulu, dan Kelinjau Ilir dilaporkan mengalami kerusakan parah di sejumlah titik. Padahal, jalur tersebut merupakan satu-satunya akses darat menuju pusat kecamatan dan lokasi kerja warga.

“Kalau hujan, badan jalan yang masih tanah merah berubah jadi lumpur. Kendaraan tidak bisa lewat, mau tidak mau warga pakai perahu kecil lewat parit di pinggir jalan,” kata warga Muara Ancalong, Angga Gilang, Rabu (7/1/2026).

Menurut Angga, dari total panjang jalan sekitar 34 kilometer, kerusakan terparah berada di kilometer 1 hingga 3 serta kilometer 7. Di titik-titik tersebut, genangan air kerap muncul saat hujan, membuat jalan licin dan nyaris tak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat. Jalan tersebut menjadi akses utama bagi warga yang bekerja di sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit di sekitar Muara Ancalong.

“Semua perusahaan lewat jalan itu. Karyawan sawit tidak punya pilihan lain selain jalur tersebut untuk berangkat kerja,” ujar Angga.

Ia menilai, hingga kini belum ada penanganan serius dan berkelanjutan. Upaya perbaikan yang dilakukan selama ini bersifat sementara dan tidak menyentuh akar masalah.

“Perusahaan pernah menurunkan alat berat, tapi hanya dikeruk. Tidak ada pengerasan. Setelah hujan, rusak lagi,” katanya.

Selain menghambat aktivitas ekonomi, jalan rusak juga menyulitkan warga Desa Senyiur untuk mengakses pusat Kecamatan Muara Ancalong, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pokok dan mengurus keperluan administrasi.

“Kalau mau ke kecamatan, ya harus lewat jalan itu. Kalau tidak bisa dilewati, harus memutar jauh dan itu tidak semua orang sanggup,” ujarnya.

Angga menyebutkan, perbaikan jalan tersebut sebenarnya telah masuk dalam rencana pembangunan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui skema proyek tahun jamak (multi years) yang direncanakan mulai 2026. Namun, hingga kini belum ada kejelasan terkait waktu pelaksanaan maupun besaran anggaran.

“Informasi dari anggota dewan dapil sana, katanya sudah dianggarkan oleh bupati untuk 2026. Tapi detailnya belum tahu,” kata dia.

Lebih jauh, Angga menilai kondisi ini mencerminkan ketimpangan pembangunan antara wilayah pinggiran dan kawasan perkotaan di Kutai Timur. Menurut dia, Muara Ancalong masih tertinggal jauh dibandingkan daerah lain seperti Sangatta atau Muara Wahau.

“Saya lahir dan besar di sana. Dari dulu sampai sekarang, rasanya tidak banyak berubah,” ujarnya.

Ia menduga, posisi Muara Ancalong yang berada di ujung wilayah Kutai Timur membuat daerah tersebut kurang mendapat perhatian.

“Kami bukan daerah lintasan. Mungkin itu sebabnya,” kata Angga.

Ia berharap, selain pemerintah daerah, para wakil rakyat dari daerah pemilihan Muara Ancalong lebih aktif memperjuangkan aspirasi masyarakat, tidak hanya di sektor infrastruktur, tetapi juga layanan dasar lainnya.

“Bukan cuma jalan, layanan kesehatan dan pelayanan dasar juga masih jauh tertinggal. Kalau dibandingkan dengan Sangatta, jaraknya terasa sekali,” ujarnya. (Ronny/teraskata)