TERASKATAKALTIM – Dominasi perempuan di sejumlah posisi strategis pemerintahan daerah dinilai sebagai kemajuan penting dalam upaya pengarusutamaan gender. Namun, kondisi tersebut belum tercermin di legislatif.
“Perempuan hari ini memimpin di banyak sektor pemerintahan. Kita melihat bagaimana Sekda, Sekwan, Kepala Biro Kesra, hingga sejumlah direktur rumah sakit dijabat oleh sosok perempuan. Ini prestasi yang tidak bisa diabaikan,” ujar Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Damayanti, Kamis (22/5/25).
Namun, di tengah pencapaian itu, ia menilai ada kesenjangan besar dalam representasi politik di parlemen. Di DPRD Kaltim, jumlah legislator perempuan justru menurun. Dari dapil Balikpapan misalnya, hanya tersisa satu perempuan yakni dirinya sendiri.
Menurutnya, fenomena ini menunjukkan masih lemahnya kepercayaan publik terhadap kemampuan perempuan di ranah politik.
Padahal, kata Damayanti, kualitas dan kompetensi bukanlah persoalan utama melainkan rendahnya dukungan moral dan sosial terhadap perempuan yang ingin maju di panggung politik.
“Banyak yang mampu, tapi tidak banyak yang berani. Tekanan sosial dan pandangan lama yang menempatkan perempuan di balik peran domestik masih sangat kuat,” ucapnya.
Tak hanya menyoroti ketimpangan representasi, Damayanti juga mengaitkan isu politik gender dengan persoalan ketahanan keluarga. Menurutnya, angka pernikahan usia dini dan kekerasan dalam rumah tangga terus menjadi tantangan serius.
Ia menilai hal tersebut terjadi karena minimnya pemahaman terhadap nilai-nilai kesetaraan dan peran keluarga dalam membentuk karakter generasi muda.
“Pendidikan karakter harus dimulai dari rumah. Tapi jika orang tua sendiri tidak punya bekal nilai yang kuat, maka akan sulit menciptakan generasi yang sehat secara sosial dan emosional,” jelasnya.
Ia juga menyinggung soal peran teknologi dan media sosial dalam membentuk persepsi masyarakat, termasuk soal peran perempuan. Damayanti menyebut perlunya adaptasi terhadap zaman tanpa melupakan nilai dasar yang menjadi fondasi kehidupan keluarga.
Meski keterwakilan perempuan di DPRD saat ini menurun, Damayanti tetap optimistis. Ia menilai kehadiran tujuh legislator perempuan di Kaltim masih menjadi kekuatan penting untuk mendorong perubahan, terutama jika disertai semangat kolektif dan solidaritas di antara sesama perempuan.
“Kita masih punya energi untuk mendorong lebih banyak perempuan ke ruang pengambilan keputusan. Yang penting sekarang, bagaimana kita membuktikan bahwa amanah ini dijalankan dengan baik agar jadi inspirasi bagi generasi selanjutnya,” tutupnya.
RF (ADV DPRD KALTIM)

