Media Sosial Jadi Jurus Baru Dongkrak Pariwisata Samarinda

TERASKATAKALTIM – Strategi pengembangan pariwisata Samarinda kini diarahkan ke jalur digital. Abdul Giaz, anggota Komisi II DPRD Kaltim, menilai media sosial sebagai alat paling relevan untuk menampilkan pesona kota Samarinda ke publik luas, terutama generasi muda dan wisatawan mancanegara.

Ia meyakini bahwa kekayaan budaya dan keindahan alam Samarinda belum tergali maksimal, terutama dari sisi eksposur digital.

“Kalau kita bicara potensi, Samarinda punya banyak. Tapi selama ini belum diangkat dengan cara yang tepat,” ungkapnya, Jum’at (30/5/25).

Giaz menyoroti bahwa narasi visual tentang Samarinda di platform seperti Instagram dan TikTok masih minim.

Padahal, menurutnya, konten seputar kuliner khas hingga spot-spot alam seperti kawasan sungai atau taman kota bisa menjadi magnet digital jika dikemas secara kreatif.

“Sosial media itu etalase. Apa yang kita tampilkan di sana, itu yang dilihat dunia. Jadi kalau kita ingin wisata kita dikenal, mulailah dari situ,” tegasnya.

Salah satu aset yang ia anggap punya daya tarik besar adalah Sungai Mahakam. Giaz mendorong agar sungai ini tidak hanya dilihat sebagai jalur transportasi, tapi juga sebagai pusat kegiatan wisata air.

Ia mengapresiasi langkah Pemprov Kaltim yang mulai melirik potensi ini dalam rencana pembangunan sektor pariwisata.

“Jangan tunggu sempurna dulu baru promosi. Kita perkenalkan dulu, nanti perhatian akan datang. Balikpapan punya laut, kita punya Mahakam. Harusnya ini jadi keunggulan,” ujarnya.

Lebih jauh, Giaz juga menyoroti pola pikir sebagian masyarakat yang lebih memilih berlibur ke luar negeri daripada mengeksplorasi daerah sendiri.

Ia menyebut, tempat-tempat indah di Kaltim seperti di Berau masih jarang terdengar, padahal menyimpan panorama kelas dunia.

“Seringkali kita tidak sadar, surga itu ada di halaman sendiri. Cuma karena tidak diekspos, orang pikir kita tidak punya apa-apa,” ujarnya.

Meskipun infrastruktur menjadi tantangan di beberapa lokasi, ia melihat promosi digital sebagai pemicu awal yang mampu membuka mata publik dan pemangku kepentingan untuk lebih serius mengembangkan sektor ini.

“Kalau orang sudah tahu, mereka akan datang. Dan dari kunjungan itulah ekonomi bisa tumbuh. Jadi promosi itu bukan pelengkap, tapi fondasi,” tandasnya.

RF (ADV DPRD KALTIM)