DPPKB Kutim Tegaskan Vasektomi Aman, Stigma Lemahkan Pria Dipatahkan Testimoni

TERASKATA.Com, Kutai Timur – Isu negatif tentang vasektomi yang dianggap membuat pria kehilangan gairah seksual masih beredar di masyarakat Kutai Timur. Namun, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim menegaskan hal itu tidak benar.

Kabid Keluarga Berencana DPPKB Kutim, Mustika, mengatakan, justru pengalaman akseptor menunjukkan vasektomi tidak berdampak buruk terhadap kesehatan pria maupun kehidupan rumah tangga.

“Selama ini kan dibilang kalau vasektomi itu tidak bisa berdiri. Itu isu masyarakat. Tapi kenyataannya yang sudah vasektomi bilang mereka sehat, hubungan dengan istri juga tidak ada masalah. Malah ada yang bilang tambah jos,” ungkap Mustika saat dijumpai di Kantor DPPKB Kutim.

Menurutnya, testimoni langsung dari akseptor menjadi cara paling efektif melawan stigma. “Kalau yang menyampaikan itu dokter atau bidan, kadang masyarakat masih ragu. Tapi begitu yang bicara orang yang sudah vasektomi, mereka percaya. Itu yang kami lakukan dalam sosialisasi,” tambahnya.

Hingga September 2025, DPPKB Kutim mencatat tiga pria sudah menjalani vasektomi dari target lima akseptor tahun ini. Dua peserta lain masih dalam tahap konseling. Mustika menyebut prosesnya memang tidak mudah karena keputusan vasektomi harus benar-benar matang.

“Ini kontrasepsi mantap. Jadi syaratnya juga harus mantap. Minimal usia 35 tahun, punya anak dua, sehat jasmani dan rohani, dan yang paling penting ada persetujuan istri. Jangan sampai nanti menimbulkan saling menyalahkan di kemudian hari,” jelasnya.

Ia menuturkan, alasan masyarakat memilih vasektomi beragam. Faktor ekonomi, jumlah anak yang banyak, hingga kesehatan istri menjadi pendorong utama. “Banyak keluarga yang anaknya sudah lima, enam, tujuh. Istrinya tidak cocok pakai KB, ada yang gemuk, ada yang sakit-sakitan, atau sudah beberapa kali operasi sesar. Kasihan kalau dipaksa hamil lagi. Akhirnya suami yang ambil jalan vasektomi,” katanya.

Meski begitu, Mustika menegaskan vasektomi bukan pilihan yang bisa diambil sembarangan.

“Kalau istrinya masih sehat, bisa pakai KB, ya kami arahkan ke situ. Vasektomi itu jalan terakhir. Bukan soal mau atau tidak mau, tapi karena memang ada masalah yang membuat keluarga tidak bisa pakai KB lain,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa vasektomi bersifat permanen, sehingga pasangan harus siap sepenuhnya. Membuka kembali saluran sperma setelah operasi tidak hanya sulit, tetapi juga butuh biaya besar dan hasilnya tidak bisa dipastikan.

“Menutupnya gratis. Tapi kalau mau dibuka lagi, harus ke Surabaya, biayanya mahal, dan hasilnya 50:50. Itu yang selalu kami jelaskan sejak awal,” tegasnya.

Sejauh ini, tren vasektomi di Kutim cenderung meningkat. Mustika menyebut tidak hanya dari masyarakat umum, tetapi juga mulai ada pekerja perusahaan yang memilih jalur ini. Beberapa kecamatan dengan jumlah akseptor terbanyak antara lain Muara Bengkal, Muara Ancalong, dan Rantau Pulung.

Dengan program ini, DPPKB berharap kesadaran masyarakat makin tumbuh bahwa KB adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya perempuan.

“Vasektomi itu aman. Tidak melemahkan pria. Justru banyak yang merasa lebih tenang, lebih percaya diri. Kalau anaknya sudah cukup dan istrinya tidak bisa pakai KB, ini solusi. Tapi harus benar-benar mantap,” tutupnya. (Ronny/teraskata)