Peserta Kecewa, Persiapan Jalan Sehat HUT Kutim Dinilai Tidak Matang

TERASKATA.Com, Kutai Timur – Peserta kegiatan jalan sehat dalam rangka HUT Kutim ke-26 kecewa. Itu karena pelaksanaan kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (25/10/2025), dinilai tidak maksimal

Panitia dianggap lalai dan tidak siap melaksanakan kegiatan yang melibatkan ribuan orang itu.

Beragam masalah yang muncul pada hari pelaksanaan kegiatan, diantaranya distribusi kupon door prize, ketersediaan air minum hingga pembagian kaos amburadul.

Luapan kekecewaan ditumpahkan para peserta baik saat berada di lapangan maupun di media sosial.

Padatnya kerumunan di area kantor Bupati Kutim sejak pukul 06.00 WITA membuat antrean tidak teratur.

Banyak warga mengaku sudah hadir sejak pagi buta namun tetap tidak memperoleh kupon door prize.

Mereka juga menyesalkan kurangnya air minum yang membuat anak-anak hingga lansia kepanasan dan kelelahan.

Di Sosial Media, unggahan akun @Sangattaku dipenuhi ratusan komentar bernada kritikan pedas. Kritik tertuang dari berbagai arah. Mulai dari dugaan perebutan kupon oleh peserta, ketidaksiapan panitia hingga spekulasi bahwa door prize sudah diatur pemenangnya.

“Panitia ga becus, banyak orang ga dapat kupon. Itu yang dapat keluarganya panitia aja kah?,” tulis akun @lebah_orange.

“Kasihan anak kecil pada gerah, kupon air pun ga dapat. Ngasih kupon juga di atas tanjakan. Mirisnya,” keluh akun @devi_shinta08.

Sebagian lainnya bahkan menuding hadiah sudah diarahkan ke peserta tertentu. “Door prize udah diatur, kami cuma jadi pelengkap keramaian,” tulis akun lainnya.

Panitia: Kami sudah mitigasi, hanya terjadi miskomunikasi

Ketua Panitia Expo Kutim 2025, Trisno, yang juga menjabat Plt Asisten I Bidang Kesejahteraan Rakyat Setkab Kutim, membantah tudingan kupon habis atau dibagikan tidak merata.

Ia menjelaskan pihaknya mencetak kupon secara mandiri untuk menghindari penyalahgunaan sekaligus efisiensi anggaran.

“Kita cetak sendiri itu tanggal 24 (Oktober) malam, mulai dari jam 10 sampai jam 4 pagi. Itu 10 ribu kita cetak sendiri,” tegas Trisno saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (27/10/2025).

Pada tahap awal, panitia mencetak 10 ribu kupon sesuai estimasi peserta sekitar 7 ribu orang. Namun, saat warga membludak di lokasi, panitia melakukan percetakan tambahan 5 ribu kupon.

Hanya saja proses pendistribusian tersendat karena akses jalur yang tidak bisa ditempuh langsung.

“Lalu kenapa lama? Kita nggak bisa lewat jalur dekat. Pengirimannya lewat jalur melalui Satpol PP, Bukit Pandang. Itu perlu waktu dan bisa jadi di lapangan terjadi dua persepsi yang berbeda. Yang pertama, didengar masyarakat ‘kupon habis’ sehingga masyarakat berpikir ‘ngapain lagi kami ditahan’. Terus pada saat saya sendiri pakai motor yang bawa kupon, sampai sana sebagian massa sudah bergerak ke lapangan. Itu lah yang menyatakan tidak dapat kupon,” terangnya.

Ia mengeklaim, masyarakat yang tetap bertahan di titik distribusi dipastikan mendapat kupon. Namun ia tak menampik adanya peserta yang datang belakangan lalu mengira panitia tidak profesional.

“Dan di sana (tempat pembagian kupon pertama) masih ada 2 ribu masa yang bertahan, di situ kita bagi habis waktu itu. Lalu kupon yang sisanya kita bagikan lagi bagi yang di lapangan sampai tidak ada lagi satu pun yang menyatakan tidak dapat kupon,” katanya.

Panitia Akui Lalai Soal Ketersediaan Air Minum

Soal air minum, Trisno menyebut dua titik pendistribusian sebenarnya sudah disiapkan, yakni ditempat pembagian kupon dan di lapangan upacara. Bahkan sejak Kamis malam, panitia telah memastikan logistik siap diantar. Namun saat acara berlangsung, pengiriman air tidak dilakukan sesuai rencana.

“Nah, ini menurut saya kesalahan yang cukup signifikan dari kami tim ya, terkait Miss lapangan. Pada saat umpamanya kemarin krodit sementara menunggu Aqua itu sudah terdistribusi, saya rasa tidak akan sekrodit itu,” ujarnya.

Melihat situasi semakin panas, panitia akhirnya mengambil sendiri pasokan air minum di luar rencana. Namun upaya itu terlambat karena banyak peserta sudah meninggalkan lokasi.

“Lalu pada saat Miss, kita ambil langkah sendiri. Akhirnya saya perintahkan staf untuk mengambil sendiri di luar perencanaan awal. Tetapi itu tentunya masa sudah berkurang tuh. Kita drop ke titik tadi (pembagian kupon) sebagian kita drop lagi ke lapangan,” bebernya.

Distribusi Kaos Dihentikan Demi Keselamatan

Kericuhan tidak hanya di pembagian kupon dan air. Pembagian kaus peserta yang dijadwalkan pukul 07.00 Wita justru sudah didesak ribuan warga sejak pukul 06.00 Wita. Sebanyak 30 personel gabungan pengamanan kesulitan mengendalikan massa yang merangsek dari arah lapangan dan memotong antrean.

“Waktu itu sudah kita arahkan untuk sesuai dengan antrean. Nah, awalnya berjalan tertib. Tetapi datang masa baru yang tidak mengikuti antrean. Masa yang merangsek dari belakang ini yang tidak dapat dikendalikan walaupun sebenarnya sudah kita tugaskan 30 personil pengamanan. Kalau saya teruskan berisiko terhadap nyawa. Karena saya lihat banyak anak-anak kecil kan,” ujar Trisno.

Sisa kaus rencananya akan dibagikan pada puncak perayaan HUT Kutim.

“Tapi sudah terdistribusi itu 70 persen. Akan kita bagikan kepada tamu-tamu dan peserta nanti di malam puncak,” ungkapnya.

Evaluasi: Sistem Kupon Online Jadi Opsi

Menanggapi banyaknya kritik, panitia berencana melakukan evaluasi total. Opsi pendaftaran online ikut dipertimbangkan agar antrean fisik dapat diminimalisir.

“Online itu bagus, rapi dan tidak ada antrean. Tapi kelemahannya adalah apakah seluruh masyarakat Kutim saat ini mempunyai aksesibilitas untuk melakukan itu? Kalau kita lihat banyak orang tua, banyak anak-anak. Apakah mereka punya aksesibilitas untuk mengakses kupon online?,” tuturnya.

Alternatif lainnya, panitia akan mencetak jumlah kupon lebih banyak dengan mitigasi yang lebih matang pada kegiatan berikutnya. Trisno juga memastikan pendanaan percetakan kupon tidak menggunakan dana pemerintah dan sponsor.

“Kami cetak sendiri, pakai uang pribadi kami. Enggak pakai uang kantor, enggak pakai uang sponsor. Karena sponsor itu tidak ada alokasi untuk percetakan kupon itu,” pungkasnya. (Ronny/teraskata)