Defisit Beras Capai 59 Persen, Kutim Akan Sulap Lahan 3 Hektar Jadi Gudang Bulog

TERASKATA.Com, Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menempatkan pembangunan Gudang Perum Bulog sebagai langkah strategis untuk keluar dari status daerah defisit pangan.

Langkah ini diambil setelah potret kebutuhan dan produksi beras menunjukkan kesenjangan yang semakin mengkhawatirkan.

Demikian diungkapkan Plt Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setkab Kutim, Trisno, , Jumat (12/12/2025).

Menurutnya Pemkab telah menyiapkan lahan seluas 3 hektare sebagai lokasi pembangunan gudang. Lahan tersebut berada di Jalan Soekarno-Hatta dan akan diserahkan kepada Perum Bulog melalui mekanisme hibah.

“Kita punya potensi, tapi produksi kita masih jauh dari kebutuhan. Produksi beras Kutim baru sekitar 16.963 ton per tahun, sementara kebutuhan masyarakat mencapai 41.070 ton. Artinya defisit 59 persen. Ini masalah serius,” ujar Trisno.

Menurut Trisno, kondisi ini memperlihatkan bahwa Kutim selama bertahun-tahun hanya berperan sebagai penerima suplai pangan dari luar daerah. Padahal, luas wilayah Kutim mencapai 3,5 juta hektare. Dengan 138.341 hektare di antaranya telah dialokasikan untuk pertanian dan ketahanan pangan dalam RTRW.

Karena itu, intervensi tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Diperlukan infrastruktur pendukung rantai pasok, salah satunya gudang Bulog, yang akan memperkuat manajemen stok, stabilisasi harga, hingga distribusi logistik pangan di tingkat daerah.

“Gudang ini bukan sekadar bangunan. Ini fondasi sistem. Dengan adanya gudang Bulog, Kutim bisa mengelola cadangan pangan sendiri, tidak sepenuhnya bergantung pada suplai luar,” tegasnya.

Lahan Berada di Lokasi Strategis

Lahan hibah yang disiapkan disebut berada di lokasi strategis. Berjarak 5,6 kilometer dari pusat pemerintahan, 3 kilometer dari RSUD Kudungga, 12 kilometer dari Pelabuhan Kenyamukan. Serta 7 kilometer dari Bandara Tanjung Bara.

Selain itu, infrastruktur dasar seperti jaringan PDAM dan PLN juga sudah tersedia, sementara kondisi lahan yang datar membuat kebutuhan pematangan sangat minim.

Pemkab Kutim telah melakukan audiensi dengan Perum Bulog untuk memfinalisasi rencana kerja sama tersebut. Kutim juga telah resmi masuk daftar 100 lokasi pembangunan gudang Bulog se-Indonesia yang diprogramkan pemerintah pusat mulai 2026. Di Kalimantan Timur, hanya dua daerah yang masuk daftar: Kutim dan Bontang.

Trisno menyebut pembangunan ini akan menjadi penopang program jangka panjang, termasuk rencana cetak sawah 100 ribu hektare pada 2025–2029.

Tujuannya, Kutim bisa naik kelas dari penerima distribusi menjadi daerah yang mampu menyediakan pangan secara mandiri.

“Kita tidak mau Kutim selamanya jadi wilayah distribusi. Kita ingin Kutim berdiri sendiri memenuhi kebutuhan pangannya. Gudang Bulog adalah langkah awal,” tutup Trisno. (Ronny/teraskata)