Alarm Habitat Terganggu, Orangutan yang Terekam Mengais Sampah di Jalan Poros Kutim Akhirnya Dievakuasi

TERASKATA.Com, Kutai Timur — Kemunculan seekor orangutan jantan dewasa yang terekam mengais sampah di pinggir Jalan Poros Kutai Timur menjadi alarm serius bagi kondisi habitat satwa liar di wilayah ini. Setelah sempat viral, orangutan tersebut akhirnya berhasil dievakuasi tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Rabu (28/1/2026).

Orangutan berjenis Pongo pygmaeus itu sebelumnya terlihat berada di sekitar tempat pembuangan sampah dan memakan sisa makanan warga perilaku yang dinilai tidak lazim bagi satwa yang seharusnya hidup di dalam hutan.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, mengatakan proses penyelamatan dilakukan sekitar pukul 09.30 WITA setelah tim melakukan penyisiran di sepanjang Jalan Poros Perdau–Muara Wahau hingga kawasan underpass PT PAMA.

“Orangutannya kami temukan dalam kondisi sehat. Diperkirakan berusia 18 sampai 20 tahun dan merupakan jantan dewasa,” kata Ari saat dikonfirmasi.

Meski dalam kondisi fisik yang baik, keberadaan orangutan di pinggir jalan dan lokasi sampah menjadi alasan utama evakuasi dilakukan. Menurut Ari, perilaku tersebut mengindikasikan perubahan pola hidup yang berisiko, baik bagi satwa maupun manusia.

“Kalau sudah mencari makan di pinggir jalan dan di tempat sampah, itu tanda awal perubahan perilaku. Biasanya mereka mencari makan di hutan,” ujarnya.

Proses evakuasi melibatkan tim BKSDA Kaltim bersama mitra konservasi, seperti Conservation Action Network (CAN) dan Conservation Orangutan Protection (COP), serta mendapat dukungan dari perusahaan tambang di sekitar lokasi.

Ari menjelaskan, karena kondisi orangutan masih sehat dan wilayah jelajah dinilai masih tersedia, satwa tersebut direncanakan langsung dilepasliarkan pada hari yang sama.

“Rencananya akan dilepasliarkan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, wilayah Busang,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa laporan kemunculan orangutan di sekitar pemukiman dan pinggir jalan semakin sering terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Untuk kasus di pemukiman, orangutan umumnya masih berada dalam kondisi relatif aman karena hanya mengambil buah-buahan milik warga.

“Informasi yang kami terima, masyarakat tidak memberi makan. Mereka memahami itu bagian dari habitat orangutan,” sebutnya.

Namun, temuan orangutan yang mengais sampah di pinggir jalan dinilai lebih berbahaya dan perlu penanganan cepat agar satwa tidak kehilangan sifat liarnya.

“Ini supaya keliarannya masih ada dan tidak terbiasa bergantung pada manusia,” tegasnya.

Ari menambahkan, orangutan jantan dewasa memang lebih sering ditemukan di darat karena sifatnya yang menjelajah, berbeda dengan betina yang lebih banyak beraktivitas di atas tajuk pohon.

“Yang paling sering kita selamatkan itu jantan dewasa, karena mereka memang petualang,” bebernya. (Ronny)