TERASKATA.Com, Bontang – Pelepasan kontingen PGRI Kota Bontang menuju Pekan Olahraga, Seni dan Pembelajaran (PORSENIJAR) 2025 pada Jumat (14/11/2025) menjadi ruang refleksi tentang makna profesi guru bagi masa depan Kota Taman.
Di hadapan 48 peserta dan official yang akan berlaga di Balikpapan, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menyampaikan pesan mendalam. Ia menyebut bahwa seorang guru memegang dua mata air peradaban, yakni pengetahuan dan keikhlasan.
“Pendidikan adalah seni menyalakan api, bukan mengisi bejana,” ujarnya. “Guru bukan hanya memindahkan ilmu, tetapi menyalakan semangat bertanya, berpikir kritis, dan keberanian untuk terus belajar.”
Menurut Bunda Neni, apa yang ditunjukkan guru di arena kompetisi berlari, menari, bernyanyi, atau beradu gagasan adalah wujud nyata bahwa pendidikan hidup dalam tindakan, karya, dan perjuangan.
Ia menegaskan bahwa PORSENIJAR bukan sekadar panggung lomba, tetapi panggung keikhlasan dan dedikasi para pendidik.
Ketua PGRI Bontang yang juga Sekretaris Disdikbud, Saparuddin, menguatkan gagasan tersebut. Ia menyebut bahwa setiap guru yang tampil dalam ajang PORSENIJAR membawa pesan besar bagi murid-muridnya, bahwa belajar tidak pernah berhenti.
“Guru yang berkarya adalah guru yang menghidupkan harapan muridnya,” ujarnya.
“Ketika guru tampil percaya diri di panggung seni atau berjuang di arena olahraga, mereka sedang memberi contoh bahwa usaha, keberanian, dan kreativitas adalah bagian dari pendidikan,” imbuhnya.
Kontingen Porsenijar Wajah Keragaman Talenta Guru
Saparuddin menekankan bahwa kontingen tahun ini merupakan wajah keragaman talenta guru Bontang, mulai dari seni baca Alquran, kaligrafi, tari tunggal, hingga best practice pembelajaran mendalam (deep learning).
Menurutnya, kompetisi bukan tujuan akhir tetapi ruang untuk menunjukkan bahwa guru memiliki jiwa yang kaya. Cerdas, kreatif, berbudaya, dan berdedikasi.
“PORSENIJAR adalah ruang untuk melihat guru dalam dimensi yang lebih manusiawi. Bahwa mereka tidak hanya mengajar dari buku, tetapi juga dari hati,” tambahnya.
Dalam kegiatan pelepasan, sejumlah peserta menampilkan kemampuan mereka langsung di hadapan Wali Kota. Dari lantunan merdu MTQ hingga gerak pencak silat seni, tampak betapa luasnya spektrum bakat para pendidik Bontang.
Bagi Wali Kota Neni, momen itu semakin menguatkan keyakinan bahwa guru adalah sumber energi bagi masa depan Kota Bontang.
“Setiap anak Bontang adalah benih masa depan. Dan benih itu hanya tumbuh subur jika dirawat oleh guru yang berkualitas dan berhati mulia,” tuturnya. (advertorial)

