TERASKATA.Com, Kutai Timur – Anggota Komisi B DPRD Kutai Timur (Kutim), Faizal Rachman, menilai lambannya penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) berdampak langsung pada terhambatnya sejumlah kebijakan pembangunan di daerah.
Ia menegaskan penyebab utamanya adalah lemahnya koordinasi antar-organisasi perangkat daerah (OPD) setelah kewenangan penyusunan RTRW berpindah dari Bappeda ke Dinas PUPR.
Faizal menyebut ketidaksinkronan data lintas sektor membuat banyak program tidak dapat dilaksanakan karena belum mendapatkan penetapan ruang.
“Semua OPD yang tata ruangnya akan disahkan itu harus selalu dikoordinasikan. Harusnya pemerintah sudah mempersiapkan draft-nya sejak awal,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Ia mencontohkan penetapan zonasi pariwisata yang belum selaras antara PUPR dan Dinas Pariwisata. Hal yang sama terjadi pada penyusunan grand strategy sektor pengelolaan sampah, transportasi, hingga pertanian.
“Saya minta semua OPD punya grand strateginya. Bahkan Dinas LH kemarin belum koordinasi, tapi setelah dipertemukan mereka akan tindak lanjuti,” tambahnya.
Keterlambatan RTRW juga terlihat dari belum diperbaharuinya luasan ruang perkebunan rakyat. Dokumen tata ruang masih mencatat angka 242 hektare, sementara Dinas Perkebunan melaporkan lebih dari 13.000 hektare kebun rakyat telah memiliki STDB. Persoalan ini muncul karena data STDB belum dilengkapi titik koordinat.
Di sisi lain, Faizal menyoroti bahwa banyak desa di Kutim masih berstatus kawasan hutan.
Hal ini dinilai menghambat penyediaan fasilitas publik, pembangunan infrastruktur, hingga legalitas lahan masyarakat.
Ia juga menyinggung persoalan plasma masyarakat yang dibangun perusahaan namun berada di kawasan hutan dan kini disita Satgas PKH.
Menurutnya, masalah ini menunjukkan perlunya percepatan penyelesaian tata ruang agar tidak merugikan warga.
“Kalau plasma dibangunkan di kawasan hutan, masyarakat dirugikan. Perusahaan wajib mengganti lahan itu,” tegasnya.
Faizal meminta pemerintah daerah mempercepat penyelesaian RTRW agar program pembangunan tidak terus terhambat akibat belum tersedianya kepastian ruang. (Adv)

