DPRD Kutim Dorong Transformasi Perpustakaan Menuju Layanan Digital dan Ramah Anak ‎

TERASKATA.Com, Kutai Timur – Anggota DPRD Kutai Timur (Kutim), Ramadhani mendorong modernisasi perpustakaan daerah agar lebih ramah anak, mudah diakses, dan mampu mengikuti perkembangan era digital.

‎Langkah ini dianggap penting untuk meningkatkan literasi dan memperluas jangkauan layanan pendidikan bagi masyarakat.

‎Ramadhani menilai perpustakaan yang ada saat ini masih memiliki sejumlah kendala, terutama dari sisi aksesibilitas.

Ia menekankan perlunya perbaikan fasilitas pendukung seperti area parkir, jalur pedestrian, ruang baca anak, serta area publik yang lebih nyaman.

‎“Saat ini, akses menuju perpustakaan masih kurang memadai. Saya berkomitmen memastikan adanya akses yang lebih baik,” tuturnya, di Sangatta Jumat 28 November 2025.

‎Selain meningkatkan pelayanan bagi anak-anak, ia juga mendorong agar perpustakaan dapat menjadi pusat referensi bagi mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum yang membutuhkan bahan bacaan maupun sumber pembelajaran yang lebih luas.

‎Langkah ini dinilai mampu mendongkrak kualitas pendidikan dan memperkuat budaya literasi di Kutim.

‎Dalam menghadapi tren digitalisasi, politisi PPP itu juga menyoroti pentingnya adopsi teknologi digital dalam layanan perpustakaan.

‎Menurutnya, perpustakaan harus mulai mengembangkan koleksi digital berupa buku elektronik, animasi edukatif, dan konten multimedia lainnya.

Fasilitas ini dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin bergantung pada perangkat digital.

‎“Dalam era digital, akses ke buku digital melalui perangkat ponsel akan mempermudah pengunjung perpustakaan. Ini akan memperluas akses informasi tanpa harus terbatas pada koleksi fisik,” jelasnya.

‎Ramadhani berharap rencana pengembangan perpustakaan modern ini dapat segera direalisasikan melalui koordinasi antara pemerintah daerah, DPRD, serta instansi terkait lainnya.

‎Ia menegaskan bahwa transformasi perpustakaan tidak hanya soal bangunan fisik, tetapi juga peningkatan kualitas layanan, inovasi digital, dan kenyamanan pengunjung.

‎“Perpustakaan harus menjadi tempat belajar yang menyenangkan, inklusif, dan mudah diakses oleh seluruh masyarakat,” pungkasnya.(adv)