TERASKATA.Com, Kutai Timur – Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Jimmi, menegaskan bahwa rencana pengembangan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di wilayah pesisir masih terkendala kewenangan pengelolaan laut yang berada di tangan Pemerintah Provinsi.
Menurut Jimmi, meski pembahasan mengenai pengembangan TPI telah masuk dalam agenda, langkah teknis belum dapat dilakukan sebelum adanya regulasi dan keputusan lebih lanjut dari Pemerintah Provinsi.
Ia menjelaskan bahwa operasional TPI yang berada di kawasan laut tidak sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah kabupaten.
“Memang rencana pembahasan TPI sudah ada. Namun, perlu diingat, wilayah laut sepenuhnya menjadi kewenangan Provinsi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa DPRD Kutim saat ini menunggu kejelasan mekanisme kerja sama serta aturan pembagian hasil kekayaan laut antara provinsi dan daerah.
Hal ini menjadi dasar penting sebelum pengelolaan TPI dapat dijalankan secara optimal di tingkat kabupaten.
“Kami menunggu saja bagaimana Provinsi akan mengatur mekanisme kerjasamanya,” kata Jimmi.
Jimmi menekankan bahwa Pemkab Kutim sedang memfokuskan perhatian pada kebutuhan mendesak nelayan, yakni ketersediaan bahan bakar minyak (BBM).
Ia menyebut adanya upaya dari investor untuk mengelola Stasiun Pengisian BBM untuk Nelayan (SPBN) menjadi langkah yang harus segera dipastikan realisasinya.
“Saat ini, yang paling mendesak adalah adanya upaya dari investor untuk mengelola SPBN. Itu yang harus kita pastikan dulu ketersediaannya,” tegasnya.
Terkait persentase bagi hasil kekayaan laut antara provinsi dan kabupaten, Jimmi menyebut belum ada rincian resmi yang disampaikan.
Namun ia menekankan bahwa apa pun skemanya, hasil perikanan Kutai Timur harus tetap disalurkan melalui pasar lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Jimmi juga menegaskan pentingnya keberadaan TPI sebagai infrastruktur penopang sektor perikanan, baik untuk memperlancar distribusi hasil tangkapan maupun memastikan ketersediaan sumber protein hewani bagi masyarakat.
“Tentu saja pengembangan TPI itu penting. Fasilitas tersebut merupakan sumber protein yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Kutim,” pungkasnya. (Adv)

