TERASKATA.Com, Kutai Timur – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya menekan angka stunting serta mencegah dampak penyalahgunaan narkoba terhadap pembangunan keluarga.
Berbagai pihak dilibatkan, mulai dari Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Kutim, Satuan Reserse Narkoba, hingga pihak rumah sakit, untuk berperan aktif dalam program Bangga Kencana.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi B menegaskan isu narkoba dan kesehatan jiwa memiliki keterkaitan erat dengan ketahanan keluarga dan masa depan generasi.
“Bagaimana membangun keluarga yang baik kalau orang tua terlibat narkoba atau jiwanya rusak? Itu pasti akan berdampak pada tumbuh kembang anak dan kualitas generasi selanjutnya,” ujarnya saat ditemui usai kegiatan Podcast Bangga Kencana, Kamis (25/9/2025).
Menurut Junaidi, keterlibatan BNNK maupun resnarkoba bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari strategi kolaboratif dalam program Bangga Kencana dan percepatan penurunan stunting.
Ia menekankan pentingnya pencegahan sejak dini, termasuk melalui penyuluhan langsung kepada ASN agar lingkungan kerja bebas dari penyalahgunaan narkoba.
“Kami ingin melindungi ASN di bawah kami agar tidak terdeteksi penyalahgunaan narkoba. Upaya ini kami lakukan lewat penyuluhan dan ruang podcast Bangga Kencana yang dikelola bidang penyuluhan dan pergerakan,” jelasnya.
Ia menambahkan, langkah tersebut tidak hanya berlaku bagi internal DPPKB, melainkan juga dapat ditiru OPD lain.
“Tidak mungkin PNS memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat kalau dirinya sendiri tidak sehat atau terlibat narkoba. Karena itu, praktik baik ini harus ditularkan, terutama bagi OPD-OPD besar,” tegas Junaidi.
Terkait perlindungan keluarga berisiko stunting akibat narkoba, Junaidi mengaku belum ada nota kesepahaman (MoU) atau perjanjian kerja sama resmi. Namun, ia menyebut ke depan akan diterbitkan sejumlah edaran maupun instruksi dari Bupati Kutim untuk memperkuat sinergi lintas sektor.
Program-program pemerintah seperti pembangunan 1.000 rumah layak huni, penyediaan jaringan air bersih, maupun gerakan nasional orang tua asuh bagi anak stunting dinilai harus berjalan seiring dengan data by name by address keluarga berisiko stunting.
“Kalau program berjalan sendiri-sendiri, hasilnya tidak optimal. Bisa saja rumah dibangun, tetapi bukan untuk keluarga berisiko stunting. Itu sebabnya kolaborasi penting agar program benar-benar tepat sasaran,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Junaidi juga menjelaskan faktor utama yang membuat keluarga masuk kategori berisiko stunting.
Di antaranya adalah kondisi “4T” (terlalu tua, terlalu muda, terlalu dekat jarak kelahiran, dan terlalu banyak anak), tidak mengikuti program keluarga berencana, sanitasi tidak layak, serta kondisi ekonomi rendah.
“Dari indikator yang kami gunakan, tidak ada data yang menyebutkan stunting secara langsung disebabkan narkoba atau HIV. Namun, faktor itu bisa menjadi turunan dan memengaruhi kualitas hidup keluarga,” katanya.
Untuk menjangkau masyarakat luas, DPPKB Kutim memanfaatkan media digital sebagai sarana edukasi. Podcast Bangga Kencana diunggah ke YouTube dan TikTok, kemudian disebarkan ke camat, desa, tim pendamping keluarga, hingga PLKB. Strategi ini dipilih agar masyarakat lebih mudah mengakses informasi tentang layanan kesehatan, HIV, maupun rehabilitasi narkoba.
“Kita tidak mungkin mengumpulkan orang dengan label ‘penderita HIV’ atau ‘pengguna narkoba’ lalu memberikan sosialisasi. Tidak akan ada yang datang. Tapi melalui media digital, masyarakat bisa mengakses informasi secara terbuka dan sadar bahwa layanan pemeriksaan HIV maupun rehabilitasi narkoba itu gratis,” jelas Junaidi.
Menurutnya, kesadaran masyarakat akan muncul ketika informasi disajikan dengan cara yang tepat dan mudah dijangkau. Hal itu sekaligus menjadi bentuk keterbukaan pemerintah dalam memberikan perlindungan dan edukasi kesehatan keluarga.
Junaidi berharap, apa yang dilakukan DPPKB Kutim bisa menjadi model praktik baik yang diterapkan lintas OPD. Dengan begitu, penanganan keluarga berisiko stunting bisa lebih cepat dan terintegrasi.
“Kalau semua OPD bergerak bersama, program Bangga Kencana dan percepatan penurunan stunting bisa tercapai. Keluarga yang sehat dan kuat adalah pondasi Kutai Timur ke depan,” pungkasnya. (Ronny/teraskata)

